Judul: 2 Kembar Jogja (part 3)
Author: Suliyanto
Mereka berdua berjalan menyusuri sepanjang
Jalan Malioboro. Tak melewatkan satu moment sekali pun entah itu keramaian para
pedagang ataupun atraksi para pengamen yang memainkan musik dengan gembira. Sambil
sesekali bercanda tawa. Suasana menjadi lebih ramai bila malam semakin larut. Lelah
pun menghampiri mereka.
Mereka sampai di kawasan keraton. Diantara
Gedung Agung dan Benteng Vredeburg terdapat sebuah taman yang dibelah oleh jalan
utama yang menuju Kawasan Keraton. Banyak terdapat tempat duduk yang saling berjejer
sepanjang taman dan sepanjang jalan. Berbentuk melingkar dan terlindung oleh sebuah
pohon beringin besar yang tertanam di tengahnya. Suasana sangat ramai. Pemuda pemudi
tampak asyik nongkrong di sepanjang jalan. Gedung utama Bank BNI terlihat sangat
megah dan indah dikala malam hari karena terhias oleh lampu. Begitu pun Gedung Bank
BI yang berdiri diseberangnya nampak begitu indah. Memang indah suasana dikawasan
tersebut. Kawasan nol kilo meter Jogja.
Gitar dan Pena duduk dibawah pohon sambil
mengamati kegiatan sekitar yang begitu ramai. Lalu-lalang kendaraan yang tak ada
habisnya di malam minggu.
“
Ahh, akhirnya bisa duduk juga. Sejak tadi muter-muter bikin kram ini kaki ” bilang
Pena sambil memijat kakinya.
“
Aku mau cari minum dulu, kamu tunggu disini. Ok ?” jawab Gitar sambil melepas tas
dan bermaksud menitipkannya pada Pena.
“
Sekalian ya, kamu beli satu botol air mineral yang besar. Buat stok besok. Kita
kan sudah kehabisan bekal minum.. ”
Gitar
pun pergi menyeberang mencari minum diantara pedagang dan sekejap menghilang dari
pandangan Pena.
Pena sendirian. Sambil
menunggu Gitar datang membawa minum, Pena mencoba mengabadikan moment sekitar malam
itu. Dia mengambil HP-nya dari saku. Terdapat banyak hal disekitar yang bisa dia
abadikan. Terdapat banyak sepasang kekasih yang sedang menjalin kasih duduk mWiwins di bawah pohon dan sesekali diselingi canda
tawa. Ada juga banyak pedagang minuman dan makanan yang sedang berjualan keliling.
Cuaca sangat dingin.
Pena mengamati sekelilingnya. Dalam hati
kecilnya sedikit terbersit kenangan bersama Wiwin, mantannya. Memang dulu Wiwin
sering sekali mengajaknya kencan ditempat ramai seperti ini. Suasana dan segala
yang ada di sekelilingnya saat ini begitu mengingatkan kenangan lama yang ingin
dia lupakan. Tapi entah kenapa malah muncul lagi.
Dia juga ingat bagaimana dulu dia dan Gitar
sering pergi bersama pacar masing-masing. Melakukan hal gila dan seru bersama-sama.
Kenangan lama yang memaksa untuk muncul kembali sungguh membuat perasaan kalut.
Dalam hati mereka, Pena dan Gitar berusaha menghindari hal-hal atau situasi apapun
yang dapat memicu timbulnya perasaan atau kenangan atau apapun itu yang dapat mengingatkannya
kembali kepada mantan pacar mereka masing-masing karena menurut buku aturan Cinta
No.81,
” Perasaan lama yang kau pendam dan ingin
kau lupakan jangan kau ungkap lagi, karena akan menghasilkan seribu perasaan
yang sama yang akan membuatmu makin sulit melupakannya. ”
Gitar kembali sambil membawa minuman.
Dari kejauhan, Gitar mengamati pena yang terlihat duduk dengan posisi terlihat seperti melamun. Gitar menyebrang melintasi jalan
dan mendekati Pena.
“
Melamun apaan sih ? ” Sapa Gitar sambil menaruh botol dan duduk disamping Pena.
“
Oh kamu, lama banget sih cari minumnya ?” Jawab Pena sambil mengamati botol air
yang ada disamping Gitar.
“
Iya, ini tadi aku cari disekitar sini tidak ada. Jadi aku pergi agak jauh. Untung
dapat juga ”
Gitar
mengeluarkan camilan yang ada didalam tas dan menawarkannya pada Pena.
“
Nih, dari pada bengong makan ini dulu, lumayan buat camilan biar mulut kering kamu
itu ada kerjaan ”
Pena
mengambil sedikit camilan dari tangan Gitar dan langsung memakannya. Sambil mengunyah
Pena menanyakan sesuatu pada Gitar.
“
Bro, tiba-tiba aku jadi ingat sama Wiwin, gimana nih ?”
Gitar
yang sedang asyik makan menghetikan gerakan mulutnya dan dengan pelan menoleh ke
Pena.
“
Lah, emang masih inget toh. Katanya mau melupakannya ? Malah sekarang terbayang-bayang
?”
“
Gak tau nih, dengan melihat mereka yang ada disekliling kita ini tiba-tiba aku jadi
ingat sama Wiwin ”
“
Kita kan sudah sepakat untuk membuang jauh-jauh itu kenangan atau apapun kek atau
bahkan wajah mereka sekalipun dari kepala kita ” Tukas Gitar dengan nada
memperingatkan.
“
Iya, tapi ….” Sebelum Pena menyelesaikan kalimatnya, Gitar memotongnya.
“
Apa gunanya kita jauh-jauh ke Jogja kalo pada akhirnya kita tetap saja ingat dan
malah kangen pada mereka ? Bukankah tujuan awal kita jauh kejogja untuk melupakan
mereka ? Dan apakah kau kira disini kita akan menemukan sesuatu yang berhubungan
dengan mereka ? Tidak mungkin ”
Pena mencoba mencerna perkataan Gitar. Mungkin
ada benarnya juga apa yang dikatakan Gitar, pikir Pena dalam hati. Mungkin ini perasaan
sesaat akibat terlalu memikirkan mantannya tanpa berfokus bagaimana cara melupakannya.
Pena berpikir.
Gitar dan Pena kembali menikmati suasana
sekitar. Gitar kembali meneruskan TTSnya yang kemarin belum selesai. Pena
mengamati setiap sudut sekitar taman dan sepanjang jalan berharap menemukan sesuatu
yang menarik untuk dia foto pada malam itu.
Tiba-tiba pandangannya terarah fokus kepada
segerombolan pemuda pemudi yang duduk dan bercanda tepat dibelakang mereka duduk.
Dia menelan ludah dan sesekali mencoba menyipitkan mata berharap apa yang
dilihatnya salah dan sangat salah. Pena mencoba mengusap matanya dan sedikit mengedipkan
mata berusaha mencari titik fokus pandangannya pada pemuda pemudi yang
dilihatnya. Kali ini dia memutuskan dengan logikanya kalau yang dilihatnya malam
ini adalah FIRA, yaitu mantan pacar gitar yang ingin dilupakannya. Pena
tercengang hebat malam itu……..
Bagaimana bisa jauh, sangat jauh di kota
Jogja ada FIRA ??
Tidak ada komentar:
Posting Komentar