Sabtu, 08 November 2014

2 Kembar Jogja (part 3)



Judul: 2 Kembar Jogja (part 3)
 Author: Suliyanto

Mereka berdua berjalan menyusuri sepanjang Jalan Malioboro. Tak melewatkan satu moment sekali pun entah itu keramaian para pedagang ataupun atraksi para pengamen yang memainkan musik dengan gembira. Sambil sesekali bercanda tawa. Suasana menjadi lebih ramai bila malam semakin larut. Lelah pun menghampiri mereka.

Mereka sampai di kawasan keraton. Diantara Gedung Agung dan Benteng Vredeburg terdapat sebuah taman yang dibelah oleh jalan utama yang menuju Kawasan Keraton. Banyak terdapat tempat duduk yang saling berjejer sepanjang taman dan sepanjang jalan. Berbentuk melingkar dan terlindung oleh sebuah pohon beringin besar yang tertanam di tengahnya. Suasana sangat ramai. Pemuda pemudi tampak asyik nongkrong di sepanjang jalan. Gedung utama Bank BNI terlihat sangat megah dan indah dikala malam hari karena terhias oleh lampu. Begitu pun Gedung Bank BI yang berdiri diseberangnya nampak begitu indah. Memang indah suasana dikawasan tersebut. Kawasan nol kilo meter Jogja.

Gitar dan Pena duduk dibawah pohon sambil mengamati kegiatan sekitar yang begitu ramai. Lalu-lalang kendaraan yang tak ada habisnya di malam minggu.

“ Ahh, akhirnya bisa duduk juga. Sejak tadi muter-muter bikin kram ini kaki ” bilang Pena sambil memijat kakinya.
“ Aku mau cari minum dulu, kamu tunggu disini. Ok ?” jawab Gitar sambil melepas tas dan bermaksud menitipkannya pada Pena.
“ Sekalian ya, kamu beli satu botol air mineral yang besar. Buat stok besok. Kita kan sudah kehabisan bekal minum.. ”
Gitar pun pergi menyeberang mencari minum diantara pedagang dan sekejap menghilang dari pandangan Pena.

Pena sendirian. Sambil menunggu Gitar datang membawa minum, Pena mencoba mengabadikan moment sekitar malam itu. Dia mengambil HP-nya dari saku. Terdapat banyak hal disekitar yang bisa dia abadikan. Terdapat banyak sepasang kekasih yang sedang menjalin kasih duduk mWiwins di bawah pohon dan sesekali diselingi canda tawa. Ada juga banyak pedagang minuman dan makanan yang sedang berjualan keliling.

Cuaca sangat dingin.

Pena mengamati sekelilingnya. Dalam hati kecilnya sedikit terbersit kenangan bersama Wiwin, mantannya. Memang dulu Wiwin sering sekali mengajaknya kencan ditempat ramai seperti ini. Suasana dan segala yang ada di sekelilingnya saat ini begitu mengingatkan kenangan lama yang ingin dia lupakan. Tapi entah kenapa malah muncul lagi.

Dia juga ingat bagaimana dulu dia dan Gitar sering pergi bersama pacar masing-masing. Melakukan hal gila dan seru bersama-sama. Kenangan lama yang memaksa untuk muncul kembali sungguh membuat perasaan kalut. Dalam hati mereka, Pena dan Gitar berusaha menghindari hal-hal atau situasi apapun yang dapat memicu timbulnya perasaan atau kenangan atau apapun itu yang dapat mengingatkannya kembali kepada mantan pacar mereka masing-masing karena menurut buku aturan Cinta No.81,

” Perasaan lama yang kau pendam dan ingin kau lupakan jangan kau ungkap lagi, karena akan menghasilkan seribu perasaan yang sama yang akan membuatmu makin sulit melupakannya. ”

Gitar kembali sambil membawa minuman. Dari kejauhan, Gitar mengamati pena yang terlihat duduk dengan posisi terlihat seperti melamun. Gitar menyebrang melintasi jalan dan mendekati Pena.

“ Melamun apaan sih ? ” Sapa Gitar sambil menaruh botol dan duduk disamping Pena.
“ Oh kamu, lama banget sih cari minumnya ?” Jawab Pena sambil mengamati botol air yang ada disamping Gitar.
“ Iya, ini tadi aku cari disekitar sini tidak ada. Jadi aku pergi agak jauh. Untung dapat juga ”


Gitar mengeluarkan camilan yang ada didalam tas dan menawarkannya pada Pena.
“ Nih, dari pada bengong makan ini dulu, lumayan buat camilan biar mulut kering kamu itu ada kerjaan ”
Pena mengambil sedikit camilan dari tangan Gitar dan langsung memakannya. Sambil mengunyah Pena menanyakan sesuatu pada Gitar.

“ Bro, tiba-tiba aku jadi ingat sama Wiwin, gimana nih ?”
Gitar yang sedang asyik makan menghetikan gerakan mulutnya dan dengan pelan menoleh ke Pena.
“ Lah, emang masih inget toh. Katanya mau melupakannya ? Malah sekarang terbayang-bayang ?”
“ Gak tau nih, dengan melihat mereka yang ada disekliling kita ini tiba-tiba aku jadi ingat sama Wiwin ”
“ Kita kan sudah sepakat untuk membuang jauh-jauh itu kenangan atau apapun kek atau bahkan wajah mereka sekalipun dari kepala kita ” Tukas Gitar dengan nada memperingatkan.
“ Iya, tapi ….” Sebelum Pena menyelesaikan kalimatnya, Gitar memotongnya.
“ Apa gunanya kita jauh-jauh ke Jogja kalo pada akhirnya kita tetap saja ingat dan malah kangen pada mereka ? Bukankah tujuan awal kita jauh kejogja untuk melupakan mereka ? Dan apakah kau kira disini kita akan menemukan sesuatu yang berhubungan dengan mereka ? Tidak mungkin ”

Pena mencoba mencerna perkataan Gitar. Mungkin ada benarnya juga apa yang dikatakan Gitar, pikir Pena dalam hati. Mungkin ini perasaan sesaat akibat terlalu memikirkan mantannya tanpa berfokus bagaimana cara melupakannya. Pena berpikir.

Gitar dan Pena kembali menikmati suasana sekitar. Gitar kembali meneruskan TTSnya yang kemarin belum selesai. Pena mengamati setiap sudut sekitar taman dan sepanjang jalan berharap menemukan sesuatu yang menarik untuk dia foto pada malam itu.

Tiba-tiba pandangannya terarah fokus kepada segerombolan pemuda pemudi yang duduk dan bercanda tepat dibelakang mereka duduk. Dia menelan ludah dan sesekali mencoba menyipitkan mata berharap apa yang dilihatnya salah dan sangat salah. Pena mencoba mengusap matanya dan sedikit mengedipkan mata berusaha mencari titik fokus pandangannya pada pemuda pemudi yang dilihatnya. Kali ini dia memutuskan dengan logikanya kalau yang dilihatnya malam ini adalah FIRA, yaitu mantan pacar gitar yang ingin dilupakannya. Pena tercengang hebat malam itu……..

Bagaimana bisa jauh, sangat jauh di kota Jogja ada FIRA ??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar