Judul: 2 Kembar Jogja (part 2)
Author: Suliyanto
“ Capek nih ”, Keluh Gitar.
“ Ya ampun, namanya juga jalan kaki.
Anggap saja olahraga !”
“ Wah, bukannya olahraga itu pagi hari
atau paling tidak sore hari ? Ini malem-malem olahraga. gimana sih ?” Balas
Gitar dengan nada kesal.
Tapi Pena diam saja. Sepertinya pena
sudah tidak menghiraukan keluhan Gitar karena matanya lebih asyik melihat
kerlap kerlip lampu jalanan dan baliho-baliho raksasa yang terpasang kokoh di
sepanjang jalan. Gedung-gedung seakan menjadi rumah hiasan lampu-lampu kota. Jalan-jalan
besar dan juga lalu lalang kendaraan menambah ramai suasana malam minggu
disana.
Perjalanan mereka lanjutkan. Tak
henti-hentinya mata mereka melirik kanan kiri jalan. Pandangan mereka seakan tertuju pada keindahan kota Jogja pada
malam hari. Sunggguh ini merupakan perjalanan yang menyenangkan meski kaki
terasa kram karena berjalan jauh.
“ Malioboro sudah dekat, Pena !” Teriak
Gitar yang asyik sambil bergegas melangkah lebih cepat.
Pena yang sejak tadi berjalan pelan sedikit
berlari menyusul Gitar.
“ Ya, ya, ya .. Aku bahkan bisa mencium
bau gudeg dari sini. Hehehe …” Sahut Pena dengan senyum lebar.
Akhirnya setelah perjalanan yang jauh
dan letih akhirnya mereka berdua sampai di ujung jalan Malioboro.
Rasa gembira dan penasaran yang sejak
tadi terbendung akhirnya mereka keluarkan dengan sedikit berlari mendekat di
keramaian. Bau-bau makanan yang digoreng dan keramaian obrolan orang-orang yang
lalu-lalang ditambah suara-suara keramaian lainnya membuat suasana jalan ramai
dan mengasyikkan.
Senyum dan gelak tawa mereka keluarkan
karena merasa sangat gembira. Tak mau kehilangan momen tersebut Pena mengajak Gitar
sedikit narsis dengan berfoto ria di pinggir jalan Malioboro.
Setelah puas berfoto mereka menikmati
segala aktifitas malam yang berlangsung sepanjang keramaian jalan Malioboro.
Sungguh malam yang sibuk.
“ Kau lihat, aku tidak menyangka kita
akan sampai juga di Jogja !” ungkap Pena dengan gembira sambil berjalan mundur
menghadap Gitar.
“ Ya, kita akan memaksimalkan liburan
kita kali ini sampai puas, sampai lupa atau mungkin sampai terdelete sempurna
apa yang menjadi penyebab kegalauan kita selama ini”.
“ Maksud loh …? Tanya Pena dengan nada
sedikit mengejek karena sebenarnya dia juga tahu apa yang dimaksudkan oleh Gitar.
“ Halahh… Sok gak tau segala ”
“ He, he, he,,, iya deh. Kita akan
memuaskan liburan ini.. ” Sahut Pena.
Mereka seperti dua anak kecil yang
pertama kali mendapat permen. gembira sambil berlari-lari dengan senangnya.
Sejenak seakan semua masalah yang memenuhi otak mereka terhapus oleh
kegembiraan mereka. Suara tapak kaki kuda seakan ikut meramaikan suasana malam
itu. Suara delman yang lalu-lalang.
Mereka berjalan santai sambil mengamati
keramaian.
Tiba di tengah jalan mereka mendengar
alunan musik jalanan. Mereka mendekat untuk menyaksikan hiburan musik jalanan
yang kebetulan sedang konser malam itu. Suara musik begitu keras dan para
penonton bergoyang mengikuti alunan lagu yang dinyanyikan para musisi jalanan
tersebut.
Tak mau melewatkan hiburan itu, Gitar dan
Pena dengan asyik membaur dengan penonton lainnya untuk ikut bergoyang. Semakin
malam alunan musik makin terdengar ramai dan semangat. Setelah puas bergoyang, Gitar
mengajak Pena mencari minuman karena memang sejak perjalanan tadi mereka merasa
haus.
Mereka melanjutkan perjalanan.
Seakan sepanjang perjalanan, hiburan
akan selalu ada di setiap sudut jalan Malioboro. Dan tak henti-hentinya mereka
mengagumi keramain dan macam hiburan yang ada disepanjang jalan tersebut.
Sepintas mereka membayangkan seandainya
di Mojokerto ada tempat keramain dan suasana nya sama seperti ini, mungkin saja
akan menyenangkan dan mengasyikkan. Karena hiburan akan selalu ada bagi mereka
yang ingin menghabiskan malam dengan suasana yang ramai seperti ini.
Ya, seandainya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar