Rabu, 05 November 2014

2 Kembar Jogja (part 2)

Judul: 2 Kembar Jogja (part 2)
Author: Suliyanto

“ Capek nih ”,  Keluh Gitar.
“ Ya ampun, namanya juga jalan kaki. Anggap saja olahraga !”
“ Wah, bukannya olahraga itu pagi hari atau paling tidak sore hari ? Ini malem-malem olahraga. gimana sih ?” Balas Gitar dengan nada kesal.

Tapi Pena diam saja. Sepertinya pena sudah tidak menghiraukan keluhan Gitar karena matanya lebih asyik melihat kerlap kerlip lampu jalanan dan baliho-baliho raksasa yang terpasang kokoh di sepanjang jalan. Gedung-gedung seakan menjadi rumah hiasan lampu-lampu kota. Jalan-jalan besar dan juga lalu lalang kendaraan menambah ramai suasana malam minggu disana.

Perjalanan mereka lanjutkan. Tak henti-hentinya mata mereka melirik kanan kiri jalan. Pandangan mereka  seakan tertuju pada keindahan kota Jogja pada malam hari. Sunggguh ini merupakan perjalanan yang menyenangkan meski kaki terasa kram karena berjalan jauh.

“ Malioboro sudah dekat, Pena !” Teriak Gitar yang asyik sambil bergegas melangkah lebih cepat.
Pena yang sejak tadi berjalan pelan sedikit berlari menyusul Gitar.
“ Ya, ya, ya .. Aku bahkan bisa mencium bau gudeg dari sini. Hehehe …” Sahut Pena dengan senyum lebar.

Akhirnya setelah perjalanan yang jauh dan letih akhirnya mereka berdua sampai di ujung jalan Malioboro.

Rasa gembira dan penasaran yang sejak tadi terbendung akhirnya mereka keluarkan dengan sedikit berlari mendekat di keramaian. Bau-bau makanan yang digoreng dan keramaian obrolan orang-orang yang lalu-lalang ditambah suara-suara keramaian lainnya membuat suasana jalan ramai dan mengasyikkan.

Senyum dan gelak tawa mereka keluarkan karena merasa sangat gembira. Tak mau kehilangan momen tersebut Pena mengajak Gitar sedikit narsis dengan berfoto ria di pinggir jalan Malioboro.

Setelah puas berfoto mereka menikmati segala aktifitas malam yang berlangsung sepanjang keramaian jalan Malioboro. Sungguh malam yang sibuk.

“ Kau lihat, aku tidak menyangka kita akan sampai juga di Jogja !” ungkap Pena dengan gembira sambil berjalan mundur menghadap Gitar.
“ Ya, kita akan memaksimalkan liburan kita kali ini sampai puas, sampai lupa atau mungkin sampai terdelete sempurna apa yang menjadi penyebab kegalauan kita selama ini”.
“ Maksud loh …? Tanya Pena dengan nada sedikit mengejek karena sebenarnya dia juga tahu apa yang dimaksudkan oleh Gitar.
“ Halahh… Sok gak tau segala ”
“ He, he, he,,, iya deh. Kita akan memuaskan liburan ini.. ” Sahut Pena.

Mereka seperti dua anak kecil yang pertama kali mendapat permen. gembira sambil berlari-lari dengan senangnya. Sejenak seakan semua masalah yang memenuhi otak mereka terhapus oleh kegembiraan mereka. Suara tapak kaki kuda seakan ikut meramaikan suasana malam itu. Suara delman yang lalu-lalang.

Mereka berjalan santai sambil mengamati keramaian.

Tiba di tengah jalan mereka mendengar alunan musik jalanan. Mereka mendekat untuk menyaksikan hiburan musik jalanan yang kebetulan sedang konser malam itu. Suara musik begitu keras dan para penonton bergoyang mengikuti alunan lagu yang dinyanyikan para musisi jalanan tersebut.

Tak mau melewatkan hiburan itu, Gitar dan Pena dengan asyik membaur dengan penonton lainnya untuk ikut bergoyang. Semakin malam alunan musik makin terdengar ramai dan semangat. Setelah puas bergoyang, Gitar mengajak Pena mencari minuman karena memang sejak perjalanan tadi mereka merasa haus.

Mereka melanjutkan perjalanan.

Seakan sepanjang perjalanan, hiburan akan selalu ada di setiap sudut jalan Malioboro. Dan tak henti-hentinya mereka mengagumi keramain dan macam hiburan yang ada disepanjang jalan tersebut.

Sepintas mereka membayangkan seandainya di Mojokerto ada tempat keramain dan suasana nya sama seperti ini, mungkin saja akan menyenangkan dan mengasyikkan. Karena hiburan akan selalu ada bagi mereka yang ingin menghabiskan malam dengan suasana yang ramai seperti ini.

Ya, seandainya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar