Judul: 2 Kembar Jogja (part 1)
Author: Suliyanto
Suara peluit
kereta memecah kesunyian malam. Kereta menuju Jogja berangkat dari Mojokerto pukul
3 sore dan direncanakan tiba di sana sekitar jam 9 malam bila tidak ada
halangan. Kereta melaju dengan cepat menembus kesunyian malam dan sesekali berhenti di stasiun antar kota.
Di dalam
kereta, dua orang remaja laki-laki duduk manis menikmati perjalanan malam mereka.
Gitar dan Pena adalah nama dua orang itu. Pena duduk manis dengan kepala
bersandar pada jendela kereta sedangkan Gitar sedang bingung mengerjakan TTS yang
dia beli tadi dari padagang dalam kereta.
Malam semakin
larut. Pena melihat jam pada Smartphone nya yang menunjukkan pukul 7 malam. Artinya
masih 2 jam lagi untuk sampai di Jogja.
Dia kembali
bersandar di jendela sambil sesekali memperhatikan Gitar yang kelihatannya
tambah bingung mencari jawaban TTSnya tadi. Pena tersenyum kecil. Agaknya hal
yang dilakukan Gitar sedikit menghiburnya karena saat ini dia sedang dilanda
galau berat tingkat dewa.
Memang tujuan utama
mereka berlibur jauh ke Jogja adalah untuk melupakan mantan masing-masing pacar
mereka. Entah kenapa mereka berdua sama-sama mengalami nasib buruk dalam
menjalin hubungan dengan perempuan. Mereka mengalami kasus sama yaitu diputus
pacar. Tidak heran aura kegalauan mereka memancar kuat sampai menular pada siapa
saja yang mendekati mereka. Merekalah korban dari sisi gelap dunia percintaan.
Waktu berlalu
dengan cepat. Tak terasa kereta telah menempuh perjalanan yang jauh sehingga
sesuai jadwal yang telah ditentukan kereta sampai di Stasiun Lempuyangan, Jogjakarta
pada pukul 9 malam.
Para penumpang
turun satu persatu saling berdesakan berusaha keluar dari kereta. Begitupun Gitar
dan Pena. Saat itu Jogja sedang hujan dan membuat suasana malam menjadi amat
dingin. Keadaan ini membuat mereka sedikit jengkel karena harus berlari-lari
mencari tempat untuk berteduh. Mereka berteduh di sebuah warung kecil, tepat di
depan pintu keluar stasiun.
“ Tolong 2 kopi jaheNya ya, pak !” Pena memesan kopi pada penjaga warung. Malam itu begitu
dingin seakan–akan itulah sambutan kota Jogja pada dua orang remaja galau ini.
Sambil minum kopi panas, mereka juga merencanakan perjalanan wisata mana saja
yang akan dikunjungi. Dan diputuskan kalau Malioboro lah tujuan pertama mereka.
Mereka menunggu hingga hujan reda di warung tersebut dan kopi pun mulai dingin.
“ Tapi ini kan
sudah malam Pena, apa sebaiknya kita tidak cari tempat tidur saja didekat sini
agar besok bisa langsung memesan tiket pulang ke Mojokerto ?” protes Gitar pada
keputusan Pena karena merasa khawatir terlambat memesan tiket yang akan
berdampak buruk bagi waktu perjalanan pulang
mereka. Tapi Pena bersih keras untuk langsung menuju Malioboro setelah
hujan reda dan Gitar pun terpaksa mengikuti keputusan Pena.
Setelah hujan
reda, mereka pun berjalan menuju Malioboro dengan sesekali bertanya pada warga
sekitar mengenai arah yang benar. Karena mereka benar-benar tidak tahu jalan
menuju Malioboro itu.
Perjalanan ke Malioboro
begitu jauh ternyata. Tapi mereka berusaha menikmatinya.
Hiasan
lampu-lampu di sepanjang jalan dan berbagai penak-pernik lampu bangunan
gedung-gedung tinggi begitu indah.
Pena dan Gitar
menyusuri trotoar dengan diselingi canda tawa. Malam perjalanan mereka jadikan
ajang saling bercanda agar letih tak terasa walau perjalanan jauh. Inilah kisah
dua orang lelaki korban kemunafikan dunia cinta, dan keluguan akan makna cinta
yang akan mereka temukan sebentar lagi.
Dan seakan
sesuatu telah menanti mereka di tengah keramaian hiruk pikuk hiburan malam
jalan Malioboro.
Sesuatu yang
tak pernah terbayangkan oleh mereka sebelumnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar