Rabu, 05 November 2014

2 Kembar Jogja (part 1)

Judul: 2 Kembar Jogja (part 1)
Author: Suliyanto

Suara peluit kereta memecah kesunyian malam. Kereta menuju Jogja berangkat dari Mojokerto pukul 3 sore dan direncanakan tiba di sana sekitar jam 9 malam bila tidak ada halangan. Kereta melaju dengan cepat menembus kesunyian malam  dan sesekali berhenti di stasiun antar kota.

Di dalam kereta, dua orang remaja laki-laki duduk manis menikmati perjalanan malam mereka. Gitar dan Pena adalah nama dua orang itu. Pena duduk manis dengan kepala bersandar pada jendela kereta sedangkan Gitar sedang bingung mengerjakan TTS yang dia beli tadi dari padagang dalam kereta.

Malam semakin larut. Pena melihat jam pada Smartphone nya yang menunjukkan pukul 7 malam. Artinya masih 2 jam lagi untuk sampai di Jogja.

Dia kembali bersandar di jendela sambil sesekali memperhatikan Gitar yang kelihatannya tambah bingung mencari jawaban TTSnya tadi. Pena tersenyum kecil. Agaknya hal yang dilakukan Gitar sedikit menghiburnya karena saat ini dia sedang dilanda galau berat tingkat dewa.

Memang tujuan utama mereka berlibur jauh ke Jogja adalah untuk melupakan mantan masing-masing pacar mereka. Entah kenapa mereka berdua sama-sama mengalami nasib buruk dalam menjalin hubungan dengan perempuan. Mereka mengalami kasus sama yaitu diputus pacar. Tidak heran aura kegalauan mereka memancar kuat sampai menular pada siapa saja yang mendekati mereka. Merekalah korban dari sisi gelap dunia percintaan.

Waktu berlalu dengan cepat. Tak terasa kereta telah menempuh perjalanan yang jauh sehingga sesuai jadwal yang telah ditentukan kereta sampai di Stasiun Lempuyangan, Jogjakarta pada pukul 9 malam.

Para penumpang turun satu persatu saling berdesakan berusaha keluar dari kereta. Begitupun Gitar dan Pena. Saat itu Jogja sedang hujan dan membuat suasana malam menjadi amat dingin. Keadaan ini membuat mereka sedikit jengkel karena harus berlari-lari mencari tempat untuk berteduh. Mereka berteduh di sebuah warung kecil, tepat di depan pintu keluar stasiun.

“ Tolong 2 kopi jaheNya ya, pak !” Pena memesan kopi pada penjaga warung. Malam itu begitu dingin seakan–akan itulah sambutan kota Jogja pada dua orang remaja galau ini. Sambil minum kopi panas, mereka juga merencanakan perjalanan wisata mana saja yang akan dikunjungi. Dan diputuskan kalau Malioboro lah tujuan pertama mereka. Mereka menunggu hingga hujan reda di warung tersebut dan kopi pun mulai dingin.

“ Tapi ini kan sudah malam Pena, apa sebaiknya kita tidak cari tempat tidur saja didekat sini agar besok bisa langsung memesan tiket pulang ke Mojokerto ?” protes Gitar pada keputusan Pena karena merasa khawatir terlambat memesan tiket yang akan berdampak buruk bagi waktu perjalanan pulang  mereka. Tapi Pena bersih keras untuk langsung menuju Malioboro setelah hujan reda dan Gitar pun terpaksa mengikuti keputusan Pena.

Setelah hujan reda, mereka pun berjalan menuju Malioboro dengan sesekali bertanya pada warga sekitar mengenai arah yang benar. Karena mereka benar-benar tidak tahu jalan menuju Malioboro itu.

Perjalanan ke Malioboro begitu jauh ternyata. Tapi mereka berusaha menikmatinya.

Hiasan lampu-lampu di sepanjang jalan dan berbagai penak-pernik lampu bangunan gedung-gedung  tinggi begitu indah.

Pena dan Gitar menyusuri trotoar dengan diselingi canda tawa. Malam perjalanan mereka jadikan ajang saling bercanda agar letih tak terasa walau perjalanan jauh. Inilah kisah dua orang lelaki korban kemunafikan dunia cinta, dan keluguan akan makna cinta yang akan mereka temukan sebentar lagi.

Dan seakan sesuatu telah menanti mereka di tengah keramaian hiruk pikuk hiburan malam jalan Malioboro.


Sesuatu yang tak pernah terbayangkan oleh mereka sebelumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar