Sabtu, 08 November 2014

2 Kembar Jogja (part 5)



Judul: 2 Kembar Jogja (part 5)
Author: Suliyanto

Dia yang sempat ku anggap Fira telah pergi. Seakan melambai meninggalkan seribu tanda tanya……

kenyataan yang gila. Ungkapan ini sangat pas untuk mengakhiri malam ini karena besok mereka akan kembali ke Mojokerto. Tidur sambil sesekali nyengir sendiri. Gitar masih terjaga ketika Pena tertidur lelap di atas kursi taman. Kejadian malam ini benar-benar membuka pemahaman baru bagi Gitar. Tidak ada ungkapan yang tepat menurutnya untuk menggambarkan apa yang ada dipikirannya saat ini. Dia mencoba untuk tidur, berharap menemukan jawaban atas  peristiwa teraneh tahun ini dalam lembaran kamus mimpinya. Sedikit terbersit untuk kembali mengurai kenangan lama bersama Fira. Walau terasa sakit tapi tetap membekas, ungkapnya dalam hati.

Mereka berdua terlarut dalam mimpi. Tidur nyenyak  terbaring di atas kursi taman. Bintang berkelip. Udara malam yang dingin dan kesunyian suasana sepanjang jalan menemani tidur mereka disana. Malam sunyi.

Mata terasa berat saat membukanya. Cahaya terang menyilaukan menyongsong dari arah timur tanda hari yang baru. Aktivitas sekitar jalan mulai ramai. Gitar bangun lebih dulu. Pena masih terlihat tidur lelap. Meninggalkan tanda bekas yang apabila diamati seperti hasil kerajinan seni dari aktivitas ngilernya. Gitar tertawa melihatnya. Dia membangunkan Pena. Terbangun sambil mengusap mata, pena meregangkan dada dan kedua tangannya sambil mengaup.
“wah, sudah pagi ya” ucap pena sambil duduk disamping gitar.
“nyenyak banget tidurnya, sampai ngiler gitu” balas Gitar yang nyegir melihat sisa iler yang menenpel pekat di bawah bibir Pena. Menyadari hal itu, pena segera mengusapnya.

Mereka bergegas mandi di pemandian umum sekitar. Perut yang lapar memandu mereka pada warung gudeg yang ada di depan pemandian tersebut. Makan dengan lahap dan semangat karena hari ini mereka harus mendapat tiket pulang ke Mojokerto. Pelayanan tiket di stasiun masih belum buka  sebelum pukul 08.00. mereka masih sempat merencanakan untuk membeli oleh-oleh di malioboro. Masih banyak waktu untuk menikmati hari terakhir di jogja. Selesai makan, mereka menuju jalan malioboro sesuai rencana.

Kembali berjalan menuju malioboro. Suasana minggu sangat ramai pagi itu. Turis mancanegara banyak yang berbelanja disana. Meneluri padatnya pedagang dan juga wisatawan lain membuat jalan masuk sesak. Sesekali wajah pena harus rela tertabrak tas besar yang ada didepannya.

Sepanjang jalan dipenuhi para pedagang mulai dari pakaian batik, gerabah, kaos dan aksesoris. Banyak pilihan sebagai oleh-oleh. Gitar masuk ke sebuah toko membeli satu stel pakaian untuk adik perempuannya. Terlihat seperti batik modern. Sebaliknya dengan gitar, Pena sibuk mencari batik untuk ayahnya dan tiga buah kaos untuk adiknya. Masing-masing membawa oleh-oleh yang banyak. Tinggal kue bakpia nya,ungkap gitar.

Mereka berjalan meninggalkan malioboro. Menuju kawasan oleh-oleh khas bakpia. Setelah dirasa cukup, mereka memutuskan langsung menuju stasiun. Berjalan kaki merupakan pilihan mereka sambil menikmati suasana sekitar sepanjang perjalanan. Panas matahari mulai terasa menandakan siang telah tiba. Jarak yang ditempuh mungkin akan cukup jauh mengingat jalan yang mereka ambil merupakan jalan memutar, oleh karena itu Gitar mempunyai inisiatif mencari jalur pintas agar cepat sampai.

Lebih dari 1 jam mereka berjalan akhirnya sampai juga di depan pintu stasiun Lempuyangan. Memasuki area stasiun, mereka antri memesan karcis tujuan mojokerto. Antrian cukup padat siang itu. Gitar terlihat masih mengantri sedangkan pena beristirahat di kursi tunggu sambil melihat-lihat suasana stasiun. Rupanya cukup banyak wisatawan seperti mereka yang juga berniat pulang. Pena melihat ada pedagang minuman di sebelah stasiun. Kebetulan dia haus sejak perjalanan ke stasiun. Pena mengangkat tasnya dan keluar stasiun untuk membeli minum tanpa memberi tahu Gitar karna hanya sebentar pikirnya. Dia menyebrang jalan dan menuju warung tempat berjualan minuman.

Setelah mengantri cukup lama akhirnya Gitar mendapat dua karcis pulang ke mojokerto. Dijadwalkan pukul 3 sore mereka akan berangkat sesuai yang tertera di karcis. Bermaksud menemui Pena di tempat duduk tunggu tapi Gitar tidak menemukannya. Dia mencarinya disekitar stasiun. Terlihat Pena sudah kembali.

“dari mana sih?” Tanya Gitar sambil menyimpan 2 karcis kedalam tasnya.
“oh, ini dari beli air tadi. Dah dapet karcisnya?”
“sudah, pukul 3 sore”
“berarti masih 2 jam lagi kita menunggu”
“ya,mau bagaimana lagi”
Mereka menunggu sambil duduk di kursi tempat tunggu. Semakin siang suasana stasiun semakin ramai. Terlihat antrian setiap loker memanjang.

Duduk sambil menunggu memang membosankan.  Dikelilingi kesibukan sekitar stasiun membuat mereka termangu sambil jongkok diatas kursi. Sekilas mata gitar mengamati sekelilingnya. Di sudut stasiun terdapat sekumpulan cewek sedang asyik bercanda. Mungkin mereka juga sedang menunggu kereta. Peristiwa itu mencuri sedikit perhatian gitar. Disela-sela kerumunan ada sesuatu yang menarik. Gitar mencoba mengamatinya dengan seksama. Dan…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar