Judul: 2 Kembar Jogja (part 5)
Author: Suliyanto
Dia yang sempat ku anggap Fira
telah pergi. Seakan melambai meninggalkan seribu tanda tanya……
kenyataan yang gila. Ungkapan ini sangat pas
untuk mengakhiri malam ini karena besok mereka akan kembali ke Mojokerto. Tidur
sambil sesekali nyengir sendiri. Gitar masih terjaga ketika Pena tertidur lelap
di atas kursi taman. Kejadian malam ini benar-benar membuka pemahaman baru bagi
Gitar. Tidak ada ungkapan yang tepat menurutnya untuk menggambarkan apa yang
ada dipikirannya saat ini. Dia mencoba untuk tidur, berharap menemukan jawaban
atas peristiwa teraneh tahun ini dalam
lembaran kamus mimpinya. Sedikit terbersit untuk kembali mengurai kenangan lama
bersama Fira. Walau terasa sakit tapi
tetap membekas, ungkapnya dalam hati.
Mereka berdua terlarut dalam mimpi. Tidur
nyenyak terbaring di atas kursi taman.
Bintang berkelip. Udara malam yang dingin dan kesunyian suasana sepanjang jalan
menemani tidur mereka disana. Malam sunyi.
Mata terasa berat saat membukanya. Cahaya
terang menyilaukan menyongsong dari arah timur tanda hari yang baru. Aktivitas
sekitar jalan mulai ramai. Gitar bangun lebih dulu. Pena masih terlihat tidur
lelap. Meninggalkan tanda bekas yang apabila diamati seperti hasil kerajinan
seni dari aktivitas ngilernya. Gitar
tertawa melihatnya. Dia membangunkan Pena. Terbangun sambil mengusap mata, pena
meregangkan dada dan kedua tangannya sambil mengaup.
“wah, sudah pagi ya” ucap pena sambil duduk
disamping gitar.
“nyenyak banget tidurnya, sampai ngiler gitu”
balas Gitar yang nyegir melihat sisa iler
yang menenpel pekat di bawah bibir Pena. Menyadari hal itu, pena segera
mengusapnya.
Mereka bergegas mandi di pemandian umum
sekitar. Perut yang lapar memandu mereka pada warung gudeg yang ada di depan
pemandian tersebut. Makan dengan lahap dan semangat karena hari ini mereka
harus mendapat tiket pulang ke Mojokerto. Pelayanan tiket di stasiun masih
belum buka sebelum pukul 08.00. mereka
masih sempat merencanakan untuk membeli oleh-oleh di malioboro. Masih banyak
waktu untuk menikmati hari terakhir di jogja. Selesai makan, mereka menuju
jalan malioboro sesuai rencana.
Kembali berjalan menuju malioboro. Suasana
minggu sangat ramai pagi itu. Turis mancanegara banyak yang berbelanja disana.
Meneluri padatnya pedagang dan juga wisatawan lain membuat jalan masuk sesak.
Sesekali wajah pena harus rela tertabrak tas besar yang ada didepannya.
Sepanjang jalan dipenuhi para pedagang mulai
dari pakaian batik, gerabah, kaos dan aksesoris. Banyak pilihan sebagai
oleh-oleh. Gitar masuk ke sebuah toko membeli satu stel pakaian untuk adik
perempuannya. Terlihat seperti batik modern. Sebaliknya dengan gitar, Pena
sibuk mencari batik untuk ayahnya dan tiga buah kaos untuk adiknya.
Masing-masing membawa oleh-oleh yang banyak. Tinggal kue bakpia nya,ungkap gitar.
Mereka berjalan meninggalkan malioboro.
Menuju kawasan oleh-oleh khas bakpia. Setelah dirasa cukup, mereka memutuskan
langsung menuju stasiun. Berjalan kaki merupakan pilihan mereka sambil
menikmati suasana sekitar sepanjang perjalanan. Panas matahari mulai terasa
menandakan siang telah tiba. Jarak yang ditempuh mungkin akan cukup jauh
mengingat jalan yang mereka ambil merupakan jalan memutar, oleh karena itu
Gitar mempunyai inisiatif mencari jalur pintas agar cepat sampai.
Lebih dari 1 jam mereka berjalan akhirnya sampai
juga di depan pintu stasiun Lempuyangan. Memasuki area stasiun, mereka antri
memesan karcis tujuan mojokerto. Antrian cukup padat siang itu. Gitar terlihat
masih mengantri sedangkan pena beristirahat di kursi tunggu sambil
melihat-lihat suasana stasiun. Rupanya cukup banyak wisatawan seperti mereka
yang juga berniat pulang. Pena melihat ada pedagang minuman di sebelah stasiun.
Kebetulan dia haus sejak perjalanan ke stasiun. Pena mengangkat tasnya dan
keluar stasiun untuk membeli minum tanpa memberi tahu Gitar karna hanya
sebentar pikirnya. Dia menyebrang jalan dan menuju warung tempat berjualan
minuman.
Setelah mengantri cukup lama akhirnya Gitar
mendapat dua karcis pulang ke mojokerto. Dijadwalkan pukul 3 sore mereka akan
berangkat sesuai yang tertera di karcis. Bermaksud menemui Pena di tempat duduk
tunggu tapi Gitar tidak menemukannya. Dia mencarinya disekitar stasiun.
Terlihat Pena sudah kembali.
“dari mana sih?” Tanya Gitar sambil menyimpan
2 karcis kedalam tasnya.
“oh, ini dari beli air tadi. Dah dapet
karcisnya?”
“sudah, pukul 3 sore”
“berarti masih 2 jam lagi kita menunggu”
“ya,mau bagaimana lagi”
Mereka menunggu sambil duduk di kursi tempat
tunggu. Semakin siang suasana stasiun semakin ramai. Terlihat antrian setiap
loker memanjang.
Duduk sambil menunggu memang
membosankan. Dikelilingi kesibukan
sekitar stasiun membuat mereka termangu sambil jongkok diatas kursi. Sekilas
mata gitar mengamati sekelilingnya. Di sudut stasiun terdapat sekumpulan cewek
sedang asyik bercanda. Mungkin mereka juga sedang menunggu kereta. Peristiwa
itu mencuri sedikit perhatian gitar. Disela-sela kerumunan ada sesuatu yang
menarik. Gitar mencoba mengamatinya dengan seksama. Dan…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar