Judul: 2 Kembar Jogja (part
4)
Author: Suliyanto
Pena masih tercengang
melihat perempuan yang sangat mirip dengan Fira………
Sungguh
tidak masuk akal. Logika yang seharusnya mengatur perbedaan antara realitas dan
fantasi seakan mati, kacau malam itu. Masih dalam pandangan pena, dia mengamati
dengan seksama kemiripan seorang wanita yang dilihatnya dengan memori wajah
fira yang sudah lama dikenalnya. Terlihat memang mirip. Lekuk wajah hidung,
mata, bibir dan bahkan senyuman khas nya pun benar-benar sangat mirip. Pena
masih menimbang dengan logikanya seakan tidak percaya bagaimana ada seorang
yang bisa dikatakan kembar identik.
Gitar masih asyik bermain dengan TTSnya
ketika Pena menepuk pundaknya.
“br,,br,,br,,bro. coba lihat itu deh” Pena
mencoba memberitahu Gitar tentang penampakan mengejutkan yang sedang
dilihatnya.
Gitar yang masih bermain dengan TTSnya
menutup dengan pelan dan membalas tepukan pundak Pena.
“ada apa sih,,lihat hantu ya..”
Tanpa permisi, Pena memutar kepala Gitar dan
menunjukkan apa yang dilihatnya diseberang sana. Seorang wanita yang tidak
asing di ingatannya. Gitar mencoba menerawang di sela kegelapan malam. Mencoba
memahami apa yang dimaksudkan pena. Masih mencari, mencari, memfokuskan
pandangannya, mencari dan mendapati segerombolan orang di seberang kegelapan
malam. Masih tetap mencari dan------------jreng,jreng,jreng…Fira??????..
Cerita
kembali flashback satu hari sebelum Gitar dan Fira putus.
Terlihat Fira menangis ketika terpaksa harus
memutuskan Gitar dengan alasan yang tidak jelas. Gitar bertanya apa penyebab
kandasnya hubungan mereka tetapi Fira tetap tidak mau menjawab. Fira meninggalkanya
begitu saja di sudut kafe tepat ketika gerimis malam turun. Termenung
memikirkan kenapa ini semua terjadi. Masih terasa baru kemaren dia jadian
dengan Fira. Kafe la troust inilah
tempat pertama kali Gitar mengucapkan cintanya. Mengikrarkan janji. Sekarang
tepat satu tahun tanggal jadi pacaran mereka dan sekarang di tempat ini juga mereka mengakhiri hubungannya. Teringat ucapan
Fira yang sangat membekas di relung hati Gitar,” aku mungkin jauh darimu mulai
sekarang tapi kau akan menemukanku dimanapun saat kau mulai lupa dengan ku”--------------
Apakah ini pertanda aku memang tidak bisa
melupakanmu. Bisik Gitar dalam hati yang berdebar saat menyaksikan keajaiban
dari sebuah kata—rindu--. Apa yang
disaksikannya malam itu merupakan jawaban persembahan kota Jogja untuk
pertanyaan yang ingin dicari jawabannya di kota ini. Walau dengan seribu satu alasan
ingin melupakannya tapi realitas dan
logika tak akan sanggup menipu kenyataan yang sedang disaksikannya saat ini.
Tersadar dari rasa terkejut, gitar mencoba
mengamati dengan bijak wanita yang mirip
dengan Fira tersebut. Memang sangat mirip. Dari ujung kepala sampai ujung kaki
terlihat sangat mirip pula. Kembali berpikir sambil kembali ke posisi semula,
duduk termenung menalar hikmah kejadian saat ini. Pena pun duduk kembali
disamping Gitar.
Tak lama berselang sambil menalar kejadian
tadi terdengar suara tegur sapa saat Gitar masih melamun. Terkejut sambil
menoleh kearah suara tadi dan terlihat sesosok perempuan berdiri tepat didepannya.
Pena yang tak sadar akan keberadaan perempuan tadi juga sangat terkejut. Gitar
mengarahkan pandangannya dari kaki sampai terlihat lah wajah manis yang tadi
menyapanya sekarang berdiri tegak didepannya. Sungguh tidak disangka siapa dia.
“ma’af mengganggu kalian, boleh minta tolong
tidak?” ucap wanita manis yang ada didepannya yang ternyata adalah wanita tadi
(kembaran Fira). Suasana menjadi sangat melankonis bagi siapa saja yang
mengerti kisah antara Gitar dan Fira dulu,,termasuk dalam pandangan Pena. Pena
diam saja disamping gitar.
“halo,,,,” sapa wanita tadi sambil
mengayunkan telapak tangannya. Mencoba untuk membangunkan Gitar dari dunia
melamunnya.
“oh ya,,ma’af. Ada yang bisa saya bantu
mbak?” jawab Gitar yang baru saja tersadar. Wanita itu tersenyum manis.
“mas melamun ya,,hahahaha,,,malam-malam kok
melamun”.
“oh,,ini tadi,,tidak, bukan apa-apa, oh ya
ada perlu apa ya mbak?”
“ini mas, saya minta tolong di foto. Bisa kan
mas?” pinta wanita tadi sambil menyerahkan kamera yang ada di sakunya dan
memberikannya pada gitar. Gitar masih bingung, antara percaya tidak percaya
pada apa yang dialaminya saat ini. Terlihat dia masih sedikit melamun. Tapi dia
mencoba untuk menangkap relistisnya.
“mau di foto dimana mbak?”
“disini saja mas, bagus tidak?”
“ya,,bagus” gitar mencoba menyesuaikan kamera
pada objeck. Mencari sudut yang tepat. Setelah dirasa cukup kamera siap untuk
mengambil gambar. Dan-------
“sebentar mas,nambah satu orang lagi ya” sela
wanita tadi sambil menunjuk pada seseorang yang sedang berjalan mendekatinya.
Seorang pria. Berkaos hitam dan bercelana jeans gelap. Pacarnya.
“oke mas” wanita tadi memberi aba-aba sambil
berpose mesra dengan pacarnya. Gitar dan pena menyaksikannya dengan asumsi
mereka menggigit jari tanda iri kepada pasangan itu.”sial” bisik hati Pena dalam hati.
Selesai dengan urusannya,wanita tadi
mengucapkan terima kasih pada pena dan Gitar. Tak luput juga pacarnya berterima
kasih pada mereka. Terlihat mereka pergi menjauh sambil bergandengan tangan dan
hilang di kegelapan malam. Seandainya masih single, aku akan minta nomer
telfonnya tadi, ungkap Gitar dalam hati.
Kembali mereka menikmati sisa malam terakhir
di lokasi tersebut. Jalan penuh romansa kenangan dan pemberi kejutan yang akan
membekas selamanya pada memori indah kisah mereka berdua di jogja. Di kawasan
nol kilometer, jalan malioboro.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar