Sabtu, 08 November 2014

2 Kembar Jogja (part 4)



Judul: 2 Kembar Jogja (part 4)
Author: Suliyanto


Pena masih tercengang melihat perempuan yang sangat mirip dengan Fira………

Sungguh tidak masuk akal. Logika yang seharusnya mengatur perbedaan antara realitas dan fantasi seakan mati, kacau malam itu. Masih dalam pandangan pena, dia mengamati dengan seksama kemiripan seorang wanita yang dilihatnya dengan memori wajah fira yang sudah lama dikenalnya. Terlihat memang mirip. Lekuk wajah hidung, mata, bibir dan bahkan senyuman khas nya pun benar-benar sangat mirip. Pena masih menimbang dengan logikanya seakan tidak percaya bagaimana ada seorang yang bisa dikatakan kembar identik.
     
Gitar masih asyik bermain dengan TTSnya ketika Pena menepuk pundaknya.
“br,,br,,br,,bro. coba lihat itu deh” Pena mencoba memberitahu Gitar tentang penampakan mengejutkan yang sedang dilihatnya.
Gitar yang masih bermain dengan TTSnya menutup dengan pelan dan membalas tepukan pundak Pena.
“ada apa sih,,lihat hantu ya..”

Tanpa permisi, Pena memutar kepala Gitar dan menunjukkan apa yang dilihatnya diseberang sana. Seorang wanita yang tidak asing di ingatannya. Gitar mencoba menerawang di sela kegelapan malam. Mencoba memahami apa yang dimaksudkan pena. Masih mencari, mencari, memfokuskan pandangannya, mencari dan mendapati segerombolan orang di seberang kegelapan malam. Masih tetap mencari dan------------jreng,jreng,jreng…Fira??????..

Cerita kembali flashback satu hari sebelum Gitar dan Fira putus.

Terlihat Fira menangis ketika terpaksa harus memutuskan Gitar dengan alasan yang tidak jelas. Gitar bertanya apa penyebab kandasnya hubungan mereka tetapi Fira tetap tidak mau menjawab. Fira meninggalkanya begitu saja di sudut kafe tepat ketika gerimis malam turun. Termenung memikirkan kenapa ini semua terjadi. Masih terasa baru kemaren dia jadian dengan Fira. Kafe la troust inilah tempat pertama kali Gitar mengucapkan cintanya. Mengikrarkan janji. Sekarang tepat satu tahun tanggal jadi pacaran mereka dan sekarang di tempat ini juga  mereka mengakhiri hubungannya. Teringat ucapan Fira yang sangat membekas di relung hati Gitar,” aku mungkin jauh darimu mulai sekarang tapi kau akan menemukanku dimanapun saat kau mulai lupa dengan ku--------------

Apakah ini pertanda aku memang tidak bisa melupakanmu. Bisik Gitar dalam hati yang berdebar saat menyaksikan keajaiban dari sebuah kata—rindu--. Apa yang disaksikannya malam itu merupakan jawaban persembahan kota Jogja untuk pertanyaan yang ingin dicari jawabannya di kota ini. Walau dengan seribu satu alasan ingin  melupakannya tapi realitas dan logika tak akan sanggup menipu kenyataan yang sedang disaksikannya saat ini.

Tersadar dari rasa terkejut, gitar mencoba mengamati dengan bijak wanita yang  mirip dengan Fira tersebut. Memang sangat mirip. Dari ujung kepala sampai ujung kaki terlihat sangat mirip pula. Kembali berpikir sambil kembali ke posisi semula, duduk termenung menalar hikmah kejadian saat ini. Pena pun duduk kembali disamping Gitar.

Tak lama berselang sambil menalar kejadian tadi terdengar suara tegur sapa saat Gitar masih melamun. Terkejut sambil menoleh kearah suara tadi dan terlihat sesosok perempuan berdiri tepat didepannya. Pena yang tak sadar akan keberadaan perempuan tadi juga sangat terkejut. Gitar mengarahkan pandangannya dari kaki sampai terlihat lah wajah manis yang tadi menyapanya sekarang berdiri tegak didepannya. Sungguh tidak disangka siapa dia.

“ma’af mengganggu kalian, boleh minta tolong tidak?” ucap wanita manis yang ada didepannya yang ternyata adalah wanita tadi (kembaran Fira). Suasana menjadi sangat melankonis bagi siapa saja yang mengerti kisah antara Gitar dan Fira dulu,,termasuk dalam pandangan Pena. Pena diam saja disamping gitar.

“halo,,,,” sapa wanita tadi sambil mengayunkan telapak tangannya. Mencoba untuk membangunkan Gitar dari dunia melamunnya.
“oh ya,,ma’af. Ada yang bisa saya bantu mbak?” jawab Gitar yang baru saja tersadar. Wanita itu tersenyum manis.
“mas melamun ya,,hahahaha,,,malam-malam kok melamun”.
“oh,,ini tadi,,tidak, bukan apa-apa, oh ya ada perlu apa ya mbak?”
“ini mas, saya minta tolong di foto. Bisa kan mas?” pinta wanita tadi sambil menyerahkan kamera yang ada di sakunya dan memberikannya pada gitar. Gitar masih bingung, antara percaya tidak percaya pada apa yang dialaminya saat ini. Terlihat dia masih sedikit melamun. Tapi dia mencoba untuk menangkap relistisnya.

“mau di foto dimana mbak?”
“disini saja mas, bagus tidak?”
“ya,,bagus” gitar mencoba menyesuaikan kamera pada objeck. Mencari sudut yang tepat. Setelah dirasa cukup kamera siap untuk mengambil gambar. Dan-------
“sebentar mas,nambah satu orang lagi ya” sela wanita tadi sambil menunjuk pada seseorang yang sedang berjalan mendekatinya. Seorang pria. Berkaos hitam dan bercelana jeans gelap. Pacarnya.

“oke mas” wanita tadi memberi aba-aba sambil berpose mesra dengan pacarnya. Gitar dan pena menyaksikannya dengan asumsi mereka menggigit jari tanda iri kepada pasangan itu.”sial” bisik hati Pena dalam hati.

Selesai dengan urusannya,wanita tadi mengucapkan terima kasih pada pena dan Gitar. Tak luput juga pacarnya berterima kasih pada mereka. Terlihat mereka pergi menjauh sambil bergandengan tangan dan hilang di kegelapan malam. Seandainya masih single, aku akan minta nomer telfonnya tadi, ungkap Gitar dalam hati.

Kembali mereka menikmati sisa malam terakhir di lokasi tersebut. Jalan penuh romansa kenangan dan pemberi kejutan yang akan membekas selamanya pada memori indah kisah mereka berdua di jogja. Di kawasan nol kilometer, jalan malioboro.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar